Pages

Tuesday, October 1, 2013

(5) Lebih Baik ke Rumah Sakit


Postingan sebelumnya:
Jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah 9 malam. Saya kembali menghubungi teman yang kerja di RS, ternyata kamar yang sudah dipesan kemarin sudah terlanjur terisi, karena kemarin saya batal membawa Nadaa ke RS.

Nadaa dan Hilmy  sudah hampir tidur ketika Dokter R datang ke rumah disertai suster. Mereka berdua langsung bangun lagi. Saya berterus terang bahwa saya bingung serta panik menghadapi infus yang macet-macet. Dokter R tersenyum maklum dan kembali menenangkan (lagi-lagi). 

Kata beliau kalo memang macet dan tidak yakin bisa membetulkan, biarkan saja dalam posisi stop sampai pagi, tidak apa-apa. Besok paginya Suster i akan selalu datang untuk cek, periksa dan memberi obat.

“Jadi tidak apa-apa infusnya berhenti sampai pagi Dok?” tanya saya agak tak yakin.

“Iya. Fungsi infusnya kan sekarang cuma untuk jalan pemberian suntikan obat saja. Ini anaknya juga sudah terlihat baik kok,” jawab Dokter R.

Tapi ternyata setelah dikutak-katik suster, si infus tetap macet juga. Dokter R menyuruh suster untuk memindahkan jarum infus ke tangan kanan Nadaa. Daaan, Nadaa kesakitan ketika ditusuk lagi. Ternyata salah tusuk. Entahlah apanya atau bagaimana, yang jelas saya mendengar kata ‘pecah’ (mungkin pembuluh darahnya? Atau apanya? Yang jelas salah posisi tusuk jarum infus). Tangan Nadaa langsung bengkak, dan mau dipindah jarum infusnya ke titik lain lagi di lengan kanan Nadaa.

Enough. 

Sudah sebelumnya saya panik dan bingung, dokter/suster tak kunjung datang, Nadaa kesakitan pula. Walaupun Dokter R masih tetap meyakinkan saya bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan, bahwa Nadaa sudah mau sehat dan tinggal dalam masa pemulihan, bahwa dia sudah beberapa kali menangani pasien home-care dengan DB dan/atau typhus dan semua baik-baik saja; namun saya ragu. 

Saya jelaskan baik-baik bahwa saya bukannya ragu dengan kemampuan Dokter R untuk mengobati Nadaa. Saya justru ragu dengan kemampuan dan mentalitas saya untuk mengurus Nadaa dengan baik di rumah.

Akhirnya Dokter R pun ‘melepas’ Nadaa. Dia wanti-wanti, selama infus dilepas dan menunggu dibawa ke RS, harus dijaga betul asupan cairannya. Soalnya berbahaya jika sampai kekurangan cairan, karena infus kan sudah dilepas.

Hah? Lhah? Bukannya belum lama dia menyatakan bahwa jika infus macet ngggak pa-pa di-stop dulu sampai pagi dan tunggu suster datang untuk membetulkan? Tanpa berpesan selama menunggu pagi itu Nadaa harus banyak minum?

Seketika saya langsung yakin, pilihan ke RS memang yang terbaik. Walaupun (kata Dokter R) Nadaa sudah dalam masa pemulihan dan masa kritisnya sudah lewat. Walaupun juga saya juga agak sungkan karena Dokter R baik dan ramah kepada kami, serta sepertinya lebih menganjurkan agar Nadaa dirawat di rumah saja.

(bersambung)

Cerita lanjutannya ada di:
(6) Akhirnya Opname Juga

No comments:

Post a Comment