Pages

Sunday, October 23, 2016

Ikan Patin Bumbu Kuning



Ceritanya lagi insyaf pengen masak yang agak ‘serius’.. ikan kuah, biar anak-anak agak istirahat dari makan lauk praktis yang digoreng-goreng akibat kemalasan emaknya :D. Kebetulan hari Sabtu kemarin pas pulang belanja sayur kok ya lewat penjual ikan. Dari sekian pilihan yang ada -- udang, cumi, tuna gede, bandeng, patin -– akhirnya milih ikan patin. Seekor sedang harganya 10 ribu.

Sebetulnya paling malas masak ikan. Nggak tahan bau amis dan agak ‘gilo’ alias jijik sama ikan mentah, apalagi isi perutnya. Kemarin sama si bapak tukang ikan sih sudah dibersihin isi perutnya, tapi masih ada sisa-sisanya dikit. Sampe rumah langsung dibersihin lagi, cuci bersih dan masukin kulkas. Eksekusi baru besoknya, hari Minggu. Walaupun browsing resep dan beli ikan plus pernak-perniknya udah dari Sabtu, hehe.

Resep ngambil dari cookpad ini:

Bahan-bahan:
-     1 ekor sedang ikan patin
-     6 siung bawang merah
-     3 siung bawang putih
-     1 ujung jari laos
-     2 batang serai
-     3 biji kemiri
-     secukupnya kunyit
-     4 lembar daun jeruk
-     sesuai selera belimbing wuluh
-     2 biji cabe hijau
-     2 atau 3 biji cabe merah besar
-     secukupnya terasi
-     setengah biji jeruk nipis
-     3 sendok makan minyak goreng
-     secukupnya garam
-     secukupnya penyedap

Cara memasak:
-     Bersihkan ikan, potong-potong dan beri perasan jeruk nipis lalu sisihkan.
-   Ulek semua bumbu kecuali cabe merah dan hijau,daun jeruk,terasi juga belimbing wuluh, bahan yang nggak diulek cukup diiris-iris aja yaa..
-   Panaskan minyak dan masukkan bumbu yang sudah halus, tumis sampai harum lalu tambahkan sedikit air, masukkan ikan patin lalu tambahkan lagi air sampai ikan terendam.
-    Setelah mendidih masukkan cabe merah dan hijau,terasi, belimbing wuluh yang sudah diiris-iris.. beri juga garam dan penyedap sesuai selera bisa juga diberi sedikit gula ya sista :)
-     Diamkan sampai ikan kembali mendidih dan benar masak, kira-kira sampai air berkurang di wajan yaa.. setelah itu baru deh siap santap.

Itu tadi resep aslinya. Berhubung nggak punya belimbing wuluh, saya ganti dengan tomat. Trus nggak pake cabe juga, soalnya Hilmy nggak doyan pedes. Dan nggak pake penyedap / MSG. Ohya, saya tambah jahe dikit, buat ngurangin lagi bau amis ikan (walaupun udah pake kunyit dan jeruk plus daunnya).
 
lagi tumben kerajinan nguprek ikan dan ngulek bumbu :D

Alhamdulillah hasilnya memuaskan (muji diri sendiri, hihi), anak-anak pada suka dan lahap makannya. Sarapan dan makan siang pake lauk yang sama pun nggak ada yang protes, hihi.

taraaa.. bisa juga masak serius ^_^

“Kapan-kapan masak ini lagi ya Bun!” seru Nadaa.

Siyaaapp.. ^_^

Thursday, September 29, 2016

Jangan Tunda Beli Properti



Tadi malem kebetulan kok nggak bisa-bisa tidur. Akhirnya jadi pengen nulis sedikit.

Dulu, waktu awal jadi pendatang di Makassar di tahun 2002, daerah Hertasning Baru dan Jl. Aroepala masih sepi. Daerah pinggiran, jauh dari pusat kota. Jalan masih belum diaspal.

Sepuluh tahun kemudian hingga tahun 2012 saat mau pindah ke Jawa, daerah sana berangsur menjelma sebagai kawasan kota yang baru. Jangan ditanya sekarang, pasti lebih ramai dan padat. Harga rumah t.36 yang dulu masih 50jutaan kabarnya udah melejit hingga 300jutaan. Apalagi di daerah situ juga ada perumahan elit Citra Grand-nya Ciputra.

Nah, ceritanya kini sudah balik tinggal di Semarang lagi. Rumah di Tembalang, daerah Undip.

Dulu pas jaman SMA, di sini masih sepiiii. Walaupun ada Politeknik, tapi belum serame sekarang. Masih banyak pohon rambutan (pernah dapet buah rambutan sampe sekarung *nyam!), dan rumah masih jarang. Serasa tinggal di ujung dunia, jauhh banget kalo mau ke sekolah yang di pusat kota sana. Nunggu angkot pun lama. Harga tanah saat itu tak sampai limaratus ribu per m2. 

Lima tahunan lalu juga masih belum sepadat sekarang. Rumah t.36 masih ada yang 200 juta. Kemudian dua tahun lalu rumah t.36 - lokasi nyempil - jalan sempit gak muat mobil saja harganya sampai 300 juta.

Dan sekarang harga tanah pinggir jalan utama sudah 3-5 jutaan/m2. Bahkan kawasan Sigar Bencah yang jauh di luar kawasan kampus dan 'sepi' pun harga rumah t.36 ada yang mencapai 350jutaan. Padahal dulu mana ada perumahan di situ.

So.. jangan underestimate dan pesimis duluan dengan tanah/properti yang:
- lokasinya jauh dan sepi
- masih di kampung
- belum ada jaringan listrik
- jalan belum bagus, dll

Bisa jadi 5-10 tahun ke depan sudah berkembang pesat dan harganya naik berkali lipat. Bikin galau dan mikir, kenapa dulu tidak diambil? Cobaaa dulu beli tanah itu pas harganya masih murah.

Tapi jangan pula gampang tergiur dengan tanah/properti murah. Perlu dicermati juga:
- pola pengembangan kawasan perkotaan
- kelengkapan surat2/dokumen pendukung
- apakah tanah tsb ada sengketa atau tidak
- track record si developer

Sayang kan kalo uang sekian juta melayang sia-sia gara-gara salah beli properti.

Jadi inget, pernah baca quote bunyinya kira-kira begini: "jangan tunda beli properti, tapi tetap harus hati-hati."

^_^

Friday, October 30, 2015

Memudahkan Urusan Orang Lain



(dimuat di Harian Amanah tanggal 29 Oktober 2015)

Mimbar Kita Harian Amanah


“Terimakasih ya, sudah memudahkan kami dengan memberi uang pas.” Pelayan toko tersenyum  menerima uang pembayaran sembari mengangsurkan barang yang saya beli.

Saya tertegun. Ternyata membayar dengan uang pas, hal yang bagi sebagian orang terlihat ‘sepele’, bisa begitu berarti bagi pihak lain.

Poinnya adalah, begitu mudahnya sebenarnya bagi kita untuk berbuat baik dan beramal shalih. Yaitu dengan memudahkan urusan orang lain. Bahkan dengan hal yang ringan saja, bisa jadi sudah membuat orang senang karena merasa terbantu dan dimudahkan.

Fenomena yang kadang terjadi, seseorang yang memiliki kuasa senang memperlihatkan kuasanya. Di antaranya dengan membuat urusan yang sebetulnya sederhana menjadi ribet dan berbelit-belit. Demikian pula yang kadangkala terjadi di birokrasi pemerintahan. Bahkan ada istilah: jika bisa dipersulit, mengapa dipermudah? Astaghfirullah...

Dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Dari hadits di atas terlihat bahwa betapa Allah sudah membukakan jalan bagi hamba-Nya untuk beramal shalih dengan cara yang mudah. Kesempatan itu terbuka lebar, tinggal kita yang peka terhadap sekitar.

Semoga kita selalu diringankan Allah untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama, di antaranya dengan cara memudahkan urusan orang lain. InsyaAllah, dengan demikian Allah pun akan memudahkan urusan kita. Aamiin... (***)

Friday, October 23, 2015

Bikin Brownies Tanpa Mixer dan Oven (dan Timbangan :D)



Tempo hari nemu postingan FB yang dishare teman. Isinya tentang resep aneka cake, bolu dan brownies. Jadi kepikiran pengen praktek resep juga, walaupun tak punya mixer dan oven, hehe.

Jadilah ikutan share postingan itu di FB, dengan maksud agar gampang nyarinya jika sewaktu-waktu mau praktek. Dan, di suatu pagi di hari Jumat akhirnya praktek beneran bikin si brownies. Sengaja pilih resep yang gampang dan seekonomis mungkin (alias pake telornya nggak banyak-banyak), biar nggak sayang kalo misalnya gagal, hihi.

Ini dia resepnya:

BAHAN :
~ 200 gr tepung terigu segitiga biru
( bisa di campur dg susu bubuk putih )
~ 200 gr gula pasir ( saya hanya pake 180 gram )
~ 30 gr coklat bubuk
~ 1 sachet / 3 sdm MILO + air hangat 200 ml
(resep asli pake indocoffee Coffeemix )
( merk kopi lain boleh saja )

~ 200 ml minyak goreng
~ 2 telur
~ 1 sdt soda kue.
~ sejumput garam
 
some of the ingredients

CARA MEMBUAT :
~ Campur & aduk rata semua bahan kering, sisihkan.
~ Kocok telur + gula pasir sampai mengembang tercampur rata ( saya pake manual saja ).
~ Masukkan bahan kering, aduk . masukkan MILO cair, aduk lagi.
~ Terakhir masukkan minyak goreng, aduk homogen dengan spatula, pastikan tercampur rata semua.
~ Tuang dlm cetakan kecil2. Olesi mentega.
~ Kukus pake api kecil s/d matang. Tes tusuk.
~ Pastikan air kukusan sudah mendidih dan tutup kukusan dialas kain serbet

Ohya, berhubung nggak punya timbangan juga, maka dipakailah ilmu kira-kira dalam menentukan ukuran bahan-bahannya. Trus saya pakainya cetakan tulban, bukan cetakan kecil-kecil seperti tertulis di resep.

Tadinya nggak begitu yakin apakah browniesnya bakal jadi atau nggak. Berhubung itu tadi.. takarannya kira-kira, ngocok telurnya juga pake sendok biasa. Trus pas mau nuang ke cetakan, kok kayaknya adonannya cair banget ya (maklum, baru sekali bikin brownies :D ).

ngocoknya pake sendok biasa :D

Ternyata hasilnya melebihi harapan euy. Enaaaakk.. lembut, moist dan nyoklat banget. Puas banget sama percobaan pertama resep ini. Anak-anak juga suka. Katanya nggak kalah dengan brownies yang biasa dibeli (agak lebay gak sih mereka, haha).

Alhamdulillah, berhasil dan enaaak ;)

Ternyata ibu-ibu yang nggak punya mixer-oven-timbangan kayak saya pun bisa bikin brownies enak, yeaaaayy :D