Pages

Thursday, March 19, 2015

Cerita Hari Pertama



Jam istirahat. Ngeblog dulu..

Mau nulis yang agak-agak sensi nih. Tentang dunia (kerja) PNS versus swasta, khususnya di hari-hari pertama ngantor. Bukan bermaksud apa-apa, apalagi mau mendiskreditkan pihak tertentu (apaan sih, serius amat.. hehe).

Jadi ceritanya di kantor ada anak baru, CPNS alias Calon Pegawai Negeri Sipil. Ini hari keempatnya ngantor. Hari pertama ngantor datang agak siang, karena ke Kantor Bupati dulu untuk penerimaan SK. Tadi kebetulan ketemu (lagi) di ruang sekretariat. Anaknya lagi bengong, duduk-duduk sambil kutak-katik hp. Terkesan nggak tahu musti ngapain.

Saya tanya, sudah menghadap pimpinan belum? Katanya sudah, dan disuruh menghadap ke Kasubag Administrasi dan Umum. Terus sudah menghadap ke Pak Kasubagnya juga, tapi cuma disuruh menunggu instruksi lebih lanjut.

Hmm, jadi ingat pengalaman diri sendiri waktu masih jadi CPNS baru juga. Untunglah waktu itu saya tidak sendirian, tapi rame-rame 19 orang di satu kantor yang sama. Jadi saat bengong, banyak temennya deh, haha.

Pengalaman sebagai anak baru a.k.a CPNS di kantor pemerintah dulu kurang lebih sama bengongnya. Kami dikumpulkan di satu ruangan khusus, tanpa terlalu diberi pengarahan atau tugas tertentu. Biasanya ditempatkan di sekretariat/bagian umum lebih dulu.

Terus terang waktu itu saya masih blank dengan job-desc, atau istilahnya tuh tupoksi (tugas pokok dan fungsi) sebagai (C)PNS. Mau inisiatif minta kerjaan, belum dikasih. Dan kelihatannya para senior kok ya pada jual mahal ya, hehe.

Terkadang, jadi anak baru (CPNS) itu berarti kita harus menyiapkan diri dianggap ‘bodoh’ dan rela disuruh mengerjakan hal-hal remeh temeh macam fotokopi dokumen, mengetik ulang draft surat dan laporan, ngasih nomor surat, dll. Tak peduli walaupun kamu adalah sarjana teknik elektro (misalnya) dan sudah berpengalaman kerja bertahun-tahun di swasta.

Pengalaman beberapa teman PNS di beberapa kantor (yang beda dengan kantor saya) juga sama. Awal-awal masuk kantor, tidak jelas. Dan sering dianggap tidak tahu apa-apa, makanya cuma dikasih kerjaan di atas itu tadi :D.

Ada teman yang bete karena disuruh fotokopi bertumpuk-tumpuk dokumen. Ada yang sebel disuruh baca macam-macam undang-undang. Bahkan mantan bos saya cerita, dulu saat awal jadi PNS kerjaannya adalah mengelem amplop surat! *sigh*

Sebagai mantan pekerja swasta, terus terang kaget juga saat awal-awal berganti peran jadi PNS.  Secara dulu di swasta terbiasa gerak cepat. Dan bicara tentang hari-hari pertama ngantor, beda banget pengalaman ketika jadi ‘anak baru’ di kantor swasta.

Awal ngantor di kantor pertama, kebetulan langsung training. Nggak ada cerita bengong atau don’t know what to do. Pas pindah ke kantor kedua (masih di swasta), hari pertama ngantor disambut bos (maksudnya dikasih briefing soal kerjaan, hihi) dan langsung kutak-katik kerjaan. Pendeknya lebih ‘teknis’ lah kegiatannya dibandingkan awal masuk kerja di kantor pemerintah :D.

Demikian sekilas pengalaman pribadi dan beberapa teman tentang hari pertama kerja, antara di kantor pemerintah dengan di swasta. Tapi mungkin tidak semua kantor pemerintah seperti cerita di atas tadi. Tergantung kantornya juga kali ya.

Nah itu tadi cerita saya. Bagaimana dengan teman-teman semua?

Wednesday, March 11, 2015

Mencari Jodoh untuk Naskah



Mau cerita sedikit soal naskah ah. Biasanya saya kirim (naskah) cerpen anak kan ke Majalah Bobo. Pertimbangannya sih karena (menurut saya) majalah ini paling bergengsi di antara majalah anak lainnya, hihi. Oplahnya besar, terbitnya mingguan. Sempat langganan juga waktu kecil dulu. Majalah kesayangan lah, pokoknya. Rasanya puas gitu, kalau dimuat di Bobo.

Nah ceritanya pas lagi rapi-rapiin file di laptop, saya nemu cerpen lama yang pernah  dikirim ke Bobo. Sudah lumayan lama ternyata, hampir tiga tahun, tapi nggak dimuat juga, hehe. Judulnya “Gara-gara Talang Mampet”. Cerita tentang kehebohan anak kecil dan ibunya di rumah saat plafon rumahnya ambrol.

Daripada mubazir dan cuma ngendon begitu saja di laptop, saya coba permak lagi tuh cerpen. Kali ini mikir, mau coba kirim ke majalah Ummi deh. Kan di situ ada suplemen khusus anak (Permata) yang ada rubrik cerpennya. Rombak sana-sini, perbaiki lagi narasi dan dialognya. Ohya, salah satu hal yang dirombak adalah mengganti panggilan “Mama-Papa”, dengan panggilan “Ummi-Abi”, hehe.

Selesai permak tulisan, langsung kirim via e-mail ke redaksi Majalah Ummi (kru_ummi@yahoo.com). Dan.. surprised juga ketika malam-malam mendapat e-mail balasan dari Ummi.

Kenapa surprised? Pertama, karena balasannya lumayan cepat. Saya kirim tanggal 23 Januari, dibalas tanggal 20 Februari. Kurang dari 1 bulan. Kedua, karena di e-mail itu dibilang bahwa cerpen saya akan (sudah) dimuat di Majalah Ummi edisi Maret 2015. Horeeee... Alhamdulillah.

Alhamdulillah dimuat di Ummi edisi Maret 2015

Hmm, jadi ingat naskah cerpen saya yang lain. Judulnya Bunda di Belanda. Ketika saya kirim pertama kali ke Kompas Anak, saya juga mendapat balasan. Lewat surat, bukan e-mail. Tapii.. balasannya berupa surat penolakan, hehe.

Sakit sih, ditolak.. tapi senang juga, karena ada kejelasan, tidak digantung :D. Nah berhubung saya pede bahwa cerpen itu bermanfaat buat anak-anak, dan merasa sayang jika tidak ter-publish (jiaah, gaya banget, hihi) saya coba kirim ulang ke media lain, yaitu Bobo -- si majalah kesayangan.

Itu kali pertama saya kirim cerpen ke Bobo, dan.. alhamdulillah langsung dimuat! Yeaay.. Rasanya pengen koprol tapi sayang nggak bisa, hehe. Memang ya, kalau sudah jodoh dan rezeki, tak akan lari ke mana.

Ditolak Kompas Anak, dimuat di Bobo ^_^

Jadi... teman-teman punya naskah yang sempat tertolak? Jangan dibiarkan nganggur. Ayo, permak dan kirim lagi ke media lain. Siapa tahu jodoh ^_^

Tuesday, March 10, 2015

Selingkuh Jangan Dibalas Selingkuh



Siang-siang, baru saja mulai makan nasi kotak sepulang dari rapat di kantor orang, ada yang membuka obrolan di ruangan. Temanya selingkuh. Saya jadi tergoda pengin menuliskan sedikit di blog.

Jadi begini, ada PNS (perempuan) yang dilaporkan ke instansinya dan ke Inspektorat oleh suaminya karena selingkuh (sampai ke tahap hubungan intim). Nah, katanya, alasan si ibu PNS ini selingkuh adalah karena ingin balas dendam terhadap suaminya yang udah selingkuh duluan.

gambar diambil dari sini

Nah lho.. kasihan juga ibu ini. Sudahlah kena dosa berzina, terancam pula kena sanksi pelanggaran disiplin PNS. Jadi dobel-dobel kan ‘sakit’nya. Padahal motivasinya cuma balas dendam saja. Walaupun bisa jadi selain balas dendam ada unsur suka sama suka juga dengan pasangan selingkuhnya.

Tadi saya sempat nyeletuk, “selingkuh jangan dibalas selingkuh” yang langsung ditanggapi teman saya “trus dibalas apa dong?”. Hahaha.

Menurut teman saya yang satu lagi, daripada balas selingkuh, lebih baik si ibu ini langsung minta cerai saja. Tapi mungkin ibu itu masih pikir-pikir ya, bagaimana hak asuh anaknya, dll.

Yang jelas, adalah salah besar membalas perbuatan selingkuh suami/istri dengan selingkuh juga. Pertama, dosa. Kedua, tidak akan menyelesaikan masalah, malah timbul masalah baru. Oke lah misalnya kedudukan jadi seri, 1-1, rasanya puas. Tapi akan meninggalkan perasaan tersakiti bagi pasangan, dan juga guilty feeling bagi si pelaku selingkuh.

Di sisi lain, (langsung) mengajukan cerai juga mungkin bukan solusi terbaik. Saya pernah baca di rubrik konsultasi psikologi di sebuah tabloid. Jika pasangan selingkuh (dan ketahuan), sebaiknya kasih tahu pasangan bahwa perbuatannya itu sudah diketahui. Gak usah terus memata-matainya untuk mencari bukti lagi dan lagi, tanpa pernah mengkomunikasikannya.

Katakan to the point bahwa kita tahu dia selingkuh, dan katakan tegas bahwa dia harus memilih serta konsisten dan konsekuen dengan pilihannya. Seorang suami/istri yang baik dan ingin keluarganya selamat, pasti akan berusaha menjauhi selingkuhannya dan berhenti ‘main-main’. No sms, no bbm, pokoknya putus komunikasi. Bisa jadi dulu dia selingkuh karena ‘khilaf’ semata.

Nah, jika memang cuma khilaf dan menyatakan komitmen untuk ‘kembali’, siapkan hati untuk memaafkan pasangan dengan tulus dan beri kesempatan kepadanya untuk memperbaiki diri. Jangan terus mengingat dan sedikit-sedikit mengungkit soal perbuatannya dulu. Mengingat-ingat kesalahan yang sudah lalu hanya akan menyakiti pasangan dan diri sendiri.

Tapi jika si dia sulit untuk lepas dari selingkuhannya dan masih saja mencoba menjalin hubungan, maka tak ada gunanya untuk mempertahankan dia menjadi pasangan hidup. Karena pernikahan memerlukan komitmen dari kedua belah pihak: suami dan istri, untuk sama-sama menjaganya supaya tetap utuh dan ‘selamat’.

Jadi.. selingkuh dibalas pakai apa dong? Kan katanya jangan dibalas selingkuh juga? Haha.. rupanya si teman masih mengejar saya dengan pertanyaannya.

Mungkin jawabannya adalah: pertama, dibalas dengan doa yang baik, agar pasangan dan selingkuhannya segera bertobat. Kedua, ya itu tadi, seperti kata rubrik konsultasi psikologi: dibalas dengan ketegasan sikap. Siapkan diri, tentukan sikap, dan segera move on.