Cuaca mendung. Ruangan
sepi. Paduan antara kelabu, dingin, hening. Bikin suasana melow. Dan perut
lapar tentu saja, hahaha.
Mendadak saya pengen
makan mie. Sekilas melihat jam, sudah hampir jam 12. Indomie rebus dengan telur
dan sawi plus irisan cabe rawit kayaknya cocok.
Oke.. habis shalat dzuhur
saya pun meluncur ke kantin belakang kantor. Duduk manis di pojokan menanti
pesanan datang. Membayangkan semangkuk mie rebus panas dengan uapnya yang menguar
menggoda selera.
Lima belas menitan
menunggu, pesanan tak kunjung datang. Saya melongok ke dapur, menanyakan status
pesanan. Ternyata mie masih diproses di atas kompor. Sepertinya oleh pelayan
baru, karena sebelumnya saya tidak pernah melihatnya di kantin.
Akhirnya yang ditunggu
datang juga. Tapi.. wait. Sepertinya agak di luar harapan. Saya membayangkan
mie instant dengan potongan sawi hijau yang melimpah dengan telur masih berbentuk
setengah utuh seperti biasa jika saya beli mie di kantin ini.
Sementara yang saya
dapat sekarang.. Mie rebus dengan kuah ‘keruh’ karena agaknya telurnya dikocok
di kuah ketika merebus mie. Meninggalkan serabut-serabut halus telur yang hancur dalam kuah
yang kental. Sawinya pun suma sedikit, dengan potongan yang kecil-kecil pula. Agak
kurang sesuai bayangan.
![]() |
mie rebus siang ini |
Tapi sudahlah..
Perlahan saya mulai
menyuap mie yang terhidang. Alhamdulillah rasanya tetap nikmat. ‘Cacat’ yang ada
hanya sedikit dibandingkan nikmat yang dirasakan. Rasanya tetap enak (tentu
saja! Indomie gitu lho, hihi), dan ‘kepyar’ (aduh, ini Bahasa Jawa agak susah
nyari terjemahannya, hehe).
Jadi merenung..
Tadi saya bisa saja membiarkan
rasa kecewa karena mie rebus yang tidak pas. Atau makan dengan ngedumel,
menyayangkan kenapa mienya tidak seperti biasanya. Atau complain ke pelayan
kantin.. kok begini-begitu.. seharusnya bla-bla-bla..
Bayangkan kalau saya fokus
ke kekurangan mienya dan tetap mempertahankan rasa negatif alias kecewa. Pasti makannya
jadi kurang nikmat. Lalu kehilangan momen syahdu makan mie di cuaca melow
(halah.. lebay :D). Mungkin juga muncul rasa nggak enak karena complain kepada pelayan
kantin.
Banyak ruginya..
Padahal barang yang
dimakan sama. Rasanya sama.
Yang beda adalah cara
menyikapinya..
Jadi merenung lagi..
Berarti begitu juga
kehidupan. Kadang kita harus menghadapi kondisi yang kurang ideal bagi kita.
Yang tidak kita harapkan. Yang mengecewakan.
Kita bisa saja
menyesalinya terus-menerus. Larut dalam kecewa. Berandai-andai, seharusnya begini - mustinya tidak begitu..
Tapi toh itu sudah
kejadian. Kenyataan sudah tersaji dan harus dijalani. Tinggal bagaimana
menyikapi dan menghadapinya. Apakah kita memilih untuk terus mempermasalahkan
hal yang bikin kecewa, atau menerima dengan lapang dada, fokus ke hal positif
yang ada, dan menjalani dengan sebaik-baiknya.
Ciee.. sok bijak banget
ini. Mungkin efek cuaca dan kekenyangan mie ya, hahaha.
Aslinya ini catatan
untuk diri sendiri sih, biar lebih positif menjalani hidup. Mengurangi mengeluh
dan memperbanyak bersyukur.
Semoga bisa ya.. Aamiin..
“Be grateful
for what you have and stop complaining - it bores everybody else, does you no
good, and doesn't solve any problems.” (Zig Ziglar)
No comments:
Post a Comment