Pages

Thursday, October 22, 2015

Bicara yang Baik atau Diam


(dimuat di Harian Amanah tanggal 21 Oktober 2015)




Suatu pagi di sebuah kantor. Apel pagi baru saja usai, dan para pegawai sudah masuk ke ruangan masing-masing. Seharusnya mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi anehnya, sebagian memilihnya dengan aktivitas mengobrol. Kadangkala obrolan-obrolan itu akan terus berkesinambungan hingga jam kantor usai.

Sebenarnya kalau cuma mengobrol, mungkin tidak akan membuat hati ini begitu terusik (Walaupun sebenarnya mungkin sudah terhitung sebagai korupsi waktu, jika mengobrolnya tidak sembari melakukan pekerjaan / tugas kantor).  Tapi, yang menjadi masalah adalah isi obrolannya.

Ada yang mengeluhkan pekerjaan dan atasan Ada yang membahas (secara fisik) seorang tamu perempuan yang baru datang ke kantor untuk mengantar berkas. Ada juga yang saling mengolok-olok sambil tertawa-tawa. Ada yang menggunjing si A, B atau C.

Ironisnya, mereka yang hanya diam dan tidak ikut ambil bagian dalam obrolan, justru dikira sombong, sok sibuk, atau jaim. Dan ujung-ujungnya ikut digunjingkan pula. Astaghfirullah hal ‘adzim...

Padahal Allah SWT telah mengingatkan kita untuk dapat menjaga lisan dengan ucapan yang baik-baik, sebagaimana firman-Nya dalam QS Qaaf [50]: 18, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

Tuntunan untuk menjaga lisan dengan perkataan yang baik juga diajarkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Semoga kita semua dimampukan Allah untuk senantiasa dapat menjaga lisan kita, dan terpelihara dari api neraka akibat perkataan yang tidak baik. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin..

***

1 comment: