Pages

Saturday, March 8, 2014

Gado-gado Femina: Demi 100 Euro



[Naskah Gado-gado kedua yang dimuat di Femina. Kali ini dimuat di edisi no. 09/XLII 1 - 7 Maret 2014. Berikut versi asli naskahnya sebelum diedit oleh editor Femina.]

 

DEMI 100 EURO


Sebagai mahasiswa pendatang dari Indonesia, awalnya aku tinggal di Weenapad, apartemen yang disediakan kampus. Setelah 3 bulan, aku berpikir untuk pindah, mencari tempat tinggal lain yang lebih murah. 


Aku pun mulai hunting sana-sini. Ternyata, ISR (Indonesische Stichting Rotterdam -- sebuah yayasan Islam orang Indonesia yang tinggal di Rotterdam) memiliki beberapa kamar yang biasa disewakan untuk mahasiswa Indonesia yang tinggal di Rotterdam. Harga sewanya per bulan jauh lebih murah dibandingkan Weenapad. Hampir separuhnya.


Oke, tempat baru sudah dapat. Deal harga dengan pengurus ISR pun sudah. Sekarang tinggal berurusan dengan Miss Parmelia, student warden di Weenapad yang cantik dan ramah. Selain pengurusan administrasi pindahan, agenda utamaku dengan Parmelia adalah untuk mengurus pengembalian deposit, sebesar 100 Euro.


Jadi begini. Di Belanda, tenant / penyewa diharuskan membayar sejumlah deposit di awal masa sewa, sebagai uang jaminan. Perjanjiannya, penyewa wajib menjaga kebersihan dan kerapian unit apartemen selama tinggal di sana. Pihak apartemen berhak memotong atau bahkan mengambil seluruh deposit jika pada saat penyewa pindah/keluar, unit apartemennya tidak berada dalam kondisi sebagaimana seharusnya.


Tentu saja, aku menginginkan uang jaminan itu kembali seluruhnya; utuh, tanpa potongan/denda. Apalagi ISR juga menerapkan peraturan yang sama, yakni penyewa harus membayar deposit sebesar 100 Euro.


Dan inilah catatan awal Parmelia pada saat cek pertama ke unitku sebelum pindahan:

- Noda di permukaan kompor                           : denda 10 Euro

- Barang pribadi masih tertinggal di kamar        : denda 5 Euro

- Noda di lantai / dinding kamar mandi             : denda 15 Euro


Wew.. lumayan juga dendanya kalo ditotal. 30 Euro! Sayang kan.. Mendingan juga dipakai buat jalan ke Paris, atau belanja diskonan di Centrum, hehe. 


Selain cantik dan ramah, Parmelia ini ternyata benar-benar teliti. Atau memang demikianlah budaya orang (di) Belanda. Teliti dan bersih. Bayangkan, meja belajar seorang kawan yang sedikit ternoda oleh bekas tumpahan teh pun tak luput dari catatan Parmelia. Nilai dendanya lumayan, 15 Euro. Oh, no..


Aturan di Weenapad menyatakan bahwa pada hari kepindahan, kamar harus dikosongkan, tanpa boleh ada barang pribadi yang tertinggal. Susunan perabotan di kamar harus kembali seperti semula. Kamar harus bersih sempurna. Tak boleh ada bekas paku / selotip di dinding, juga helai rambut tertinggal di kasur atau di lantai, misalnya.


Dan yang dimaksud Parmelia dengan dapur yang bersih adalah seperti berikut ini: tanpa noda setitik pun di area kompor dan sekitarnya (termasuk percikan minyak di dinding dapur, walaupun cuma setitik), tanpa ada tumpahan butir-butir gula atau garam di lemari dapur, plus meja makan yang harus tertata rapi. Perfect!


Kamar mandi dan WC pun harus kinclong. Sedikit saja terlihat noda kecoklatan di lantai kamar mandi akan dianggap tidak bersih oleh Parmelia, dan tentu saja, uang deposit terancam terpotong. Pfiuhh..


Aku pun bekerja keras, bersih-bersih agar sesuai standar Parmelia dan Weenapad. Masih ada waktu seminggu sebelum masa sewa habis di bulan itu.


Lalu tibalah hari H itu. Final check. Aku gelisah menunggu Parmelia datang. Sesuai jadwal, pengecekan akan dilakukan pukul 7 malam.


Ting-tong! Nah, itu dia datang. Kulirik jam tanganku. 7 lewat 9 menit. Hmm, harusnya aku juga bisa mengenai Parmelia denda ya, atas keterlambatannya, hihi.


Aku membuka pintu. Setelah menyapa dengan ramah seperti biasanya, Parmelia langsung menuju kamarku. Mengecek jendela, menyibak gordyn, membuka lemari, mengamati meja dan rak buku.


“Hmm.. looks good..,” gumamnya sambil tersenyum.

Dia beranjak ke dapur. Rasa tegang kembali merayapiku.


“Good, now it looks much better than last week..”


Oh, syukurlah. Tapi belum selesai. Masih ada kamar mandi. Aku cemas mengingat pada cek pertama matanya begitu awas, mendapati noda kecoklatan yang sebenarnya hanya samar saja. Hingga akhirnya.. 


“OK. I think everything is ok right now. Good job..”

Alhamdulillah.. aku menarik napas lega.


“So, I can get my 100 Euro back, right?” aku memastikan.


“Sure. Don’t worry..,” jawab Parmelia. Kali ini sambil tertawa. 


Mungkin sepanjang karirnya sebagai student warden, baru kali ini dia menjumpai mahasiswa yang begitu nervous mengkhawatirkan nasib 100 Euro-nya. Hahaha.

***

27 comments:

  1. Wah bagus ceritanya Mak. Mungkin memang budaya di sana tertib ya, ga seperti kita, toleransinya tinggi, jadi kalau barang dipakai ada bekas sedikit dimaklumi, termasuk saya yang grasak grusuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mak. Iya, di sana budaya bersih dan disiplin dijunjung tinggi. Enaknya, jadi lebih fair ya Mak :)

      Delete
  2. hihihi.. ada-ada saja kisah mahsiswa. gak di luar gak di dalem tetep ada yg kocak. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, kisah mahasiswa memang seru-seru. Makasih udah berkunjung.. :)

      Delete
  3. mahasiswa memang harus selalu bisa mengatur keuangan dimanapun berada
    ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi yoi.. bener banget itu.. di manapun, kapanpun, bagaimanapun, hihi. makasih kunjungannya eniwei :)

      Delete
  4. Wuihhhh mahasiswa indonesiahhh dilawan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoho.. Hidup (mahasiswa) Indonesia! :D

      Delete
  5. Ijin save ya Fi ... keren ih sudah 3 kali tembus Gado2 Femina, sy harus mempelajari ini baik2.

    Yang begitu memperjuangkan 100 Euro ini semua mahasiswa atau mahasiswa Indonesia, atau Ofi saja ya? *kabuuur*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan Kak.. Semoga sukses ya :) Btw ralat nih, baru dua kali nembus Gado-gado kok ;)
      Soal perjuangan 100 Euro-nya.. ngng.. kasih tau gak yaaa?? :D *kejar kak Niar :P

      Delete
  6. Ceritanya emang menarik mak Ofi :)
    Orang Belanda memang sebegitu bersihnya ya mak? kebayang kalo mereka ke Indo liat yang jorok2 disini pingsan kali yak :p hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya Mak.. Iya, mereka memang bersihnya 'keterlaluan', hehehe. Tapi bagus kok, kitanya jadi ketularan.. :)

      Delete
  7. Waah kereen ceritanyaa...
    mak, boleh tau syarat2 kirim naskah ke gedo-gadi femina? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kunjungannya, mbak noe. kalo aku sih nulisnya sekitar 500-an kata, font TNR 12 pt, spasi 1.5 :)

      Delete
  8. Pengin deeh bikin alur cerita yang menarik dan enak seperti mb Ofi yang keren ini :) siiip banget deh .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Christanty juga bisa kok.. Orang blognya aja keren gitu dan update terus.. :)

      Delete
  9. wah, selamat deh tulisannya berhasil dimuat di majalah femina

    ReplyDelete
  10. woww! denda 30 euro cuma untuk noda2 itu, mba? glek :D bener2 harus jaga kebersihan banget ya di sana. ehehe

    ReplyDelete
  11. teliti sekali pengamatannya.. bahkan noda di kompor bisa di deteksi.. salut sama orang (di) Belanda..

    salam kenal Mba.. :)

    ReplyDelete
  12. Yayy keren. Aku gak pernah bisa nembus gado-gado femina. Selamaaaat.^^

    ReplyDelete
  13. wow... kalo dirupiahin jadi brp ya kira2?

    ReplyDelete
  14. Waw..jadi inget acara cleanaholics di TLC..

    ReplyDelete
  15. Kalau di Indonesia, yang ngekos pindahan ibu kosannya yang beberes :D

    ReplyDelete
  16. Keren Belanda.mendidik kita untuk menjaga fasilitas yang kita pakai. Ide bagus untuk para pemilik kost atau kontrakan.hehehe

    ReplyDelete
  17. Keren Belanda.mendidik kita untuk menjaga fasilitas yang kita pakai. Ide bagus untuk para pemilik kost atau kontrakan.hehehe

    ReplyDelete