Pages

Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Wednesday, April 15, 2015

Cerpen Anak di Majalah Ummi: "Gara-gara Talang Mampet"




Ini merupakan cernak (cerpen anak) pertama yang saya kirim ke Majalah Ummi. Alhamdulillah langsung dimuat, horeeee ^_^. Pemuatannya lumayan cepat, lagi. Kirim bulan Januari, dimuat di edisi bulan Maret. Untuk alamat email dan behind the story-nya, bisa dibaca di postingan ini ya temans.. :)
 
Cerpen anak di Majalah Ummi

GARA-GARA TALANG MAMPET
(oleh: Ofi Tusiana)


“Iya, kapan-kapan Abi lihat...”

Cuma itu jawaban Abi minggu lalu ketika Ummi dan Faiz melaporkan talang rumah mereka. Ketika itu hujan deras. Aliran air meluap dari talang beton yang terletak di atas langit-langit ruang keluarga. Air yang meluap dari talang mengalir menembus langit-langit dan akhirnya membasahi dinding.

Sudah dua hari ini Abi dinas ke luar kota. Di rumah cuma ada Ummi dan Faiz. Hujan deras yang turun terus menerus sejak kemarin membuat Ummi dan Faiz khawatir.

Talang itu! Ummi dan Faiz mendongak mengamati langit-langit di dapur dengan cemas. Satu-dua lajur aliran air turun pelan-pelan dari tepian langit-langit yang berbatasan dengan dinding. Semakin lama semakin banyak, sebelum akhirnya...

BRAK!

Langit-langit yang terbuat dari tripleks ambrol! Ummi memekik panik. Faiz terlompat kaget. Percikan air mengenai tubuh dan kepala mereka. Untung hanya satu bagian tripleks yang ambrol. Rupanya tumpahan air dari talang yang meluap semakin banyak, sehingga tripleks langit-langit tidak mampu menahannya lagi.

Segera saja, air seperti menyerbu rumah mereka dari atas. Setelah tidak tertutup tripleks lagi, sekarang kelihatan air dari talang memang meluap di sana-sini.

“Ya Allah, tolong kami..!” seru Ummi sambil bergegas menyeret tripleks yang lepas ke samping rumah. Tanpa dikomando Faiz sigap mengambil ember dan kain pel. Ditaruhnya ember-ember berjejer di dekat dinding, menampung luapan air dari talang.

Ummi dan Faiz bahu membahu bekerja, mengepel air yang membasahi lantai dan memeras airnya ke ember. Bergantian mereka membawa ember yang penuh air ke kamar mandi untuk dibuang airnya.

“Hati-hati Faiz, lantainya licin,” Ummi setengah berteriak, mencoba mengalahkan gemuruh suara hujan di luar.

 “Huh, Abi sih... Nggak mau dengerin kita. Padahal kan sejak sebelum pergi Abi sudah tahu kalau talangnya bermasalah Mi,” keluh Faiz. Tangannya masih sibuk dengan kain pel.

“Daripada menyalahkan Abi, lebih baik kita fokus beres-beres, Faiz. Lihat, embernya sudah mau penuh lagi!” ujar Ummi.

Hari menjelang magrib. Deras hujan mulai reda, lalu berhenti. Tapi di luar mendung tebal masih menggantung. Aduh, bagaimana kalau turun hujan deras lagi. Jangan-jangan Ummi dan Faiz harus berjaga sepanjang malam agar rumah mereka tak kebanjiran air yang turun dari talang.

“Kita telpon Abi aja ya Mi,” Faiz minta persetujuan Ummi.

“Abi lagi kerja, Faiz. Lagian Abi sedang di luar kota, tidak bisa datang langsung walaupun ditelpon,” jawab Ummi.

“Tapi Abi harus tanggung jawab, Mi,” ujar Faiz tak mau kalah.

Ummi tidak menjawab. Tapi dari kernyit di dahi Ummi, Faiz tahu bahwa Ummi khawatir.

Rupanya hanya sebentar hujan berhenti. Sekarang hujan mulai turun lagi, walau tidak sederas tadi. Ummi bergegas ke luar rumah sambil membawa payung.

“Faiz tunggu di rumah sebentar, Ummi akan cari bantuan.”

Ummi pergi sebentar kemudian muncul lagi bersama Mang Udin, tukang kayu di kampung sebelah kompleks perumahan Faiz.

“Mungkin talangnya mampet, Bu,” kata Mang Udin.

Sambil hujan-hujanan, Mang Udin memanjat tangga ke atap rumah untuk memeriksa talang. Ummi dan Faiz mengamati dari bawah.

“Hati-hati Mang!” seru Faiz.

Ternyata talang itu mampet karena tersumbat dedaunan kering yang yang menumpuk dari waktu ke waktu. Di depan rumah Faiz memang ada tiga pohon akasia yang besar. Mang Udin berhasil mengumpulkan hampir sekarung daun kering. Wah, pantas saja air di atas talang meluap. Tumpukan daun kering menyebabkan air tidak bisa mengalir dengan lancar.

Sayup azan magrib mulai terdengar ketika Mang Udin turun dari tangga. Rintik hujan berubah menjadi deras lagi! Untunglah Mang Udin sudah beres dengan urusan talang tersumbat.

“Terimakasih Mang Udin,” ujar Ummi dan Faiz hampir bersamaan.
           
Ternyata hujan deras turun hampir sepanjang malam. Kalau saja Ummi tidak memanggil Mang Udin dan talang tidak dibersihkan, bisa jadi Ummi dan Faiz harus berjaga sepanjang malam, mengepel air yang meluap dari talang.
           
Tiga hari kemudian Abi pulang dari luar kota. Segala kehebohan akibat hujan deras telah berlalu.
           
“Akhirnya Abi pulang juga! Oleh-olehnya mana nih, Bi?” seru Faiz menyambut Abi.
           
“Eit... Cium Abi dulu baru nagih oleh-oleh,” jawab Abi tertawa.
           
“Abi sih, nggak tau ada kejadian apa tiga hari lalu. Heboh, tau Bi...,” Faiz merajuk.

Ummi tersenyum sambil melirik Abi.

“Abi tahu kok. Ummi kirim SMS malam harinya. Abi bangga sama Faiz, sudah membantu Ummi dengan baik. Iya kan Mi?” kata Abi yang disambut anggukan Ummi.

 “Abi juga minta maaf, karena tempo hari tidak segera menengok talang dan membersihkannya. Padahal Ummi dan Faiz sudah sempat memberitahu Abi,” lanjut Abi.

“Faiz maafin deh, Bi. Yang penting oleh-olehnya memadai,” sahut Faiz sambil mengedipkan sebelah mata.

Abi dan Ummi tertawa mendengar candaan Faiz.

(TAMAT)

Sunday, August 31, 2014

Cerpen Bobo: Pelajaran untuk Pak Bo

Cerpen ke-5 yang dimuat di Bobo (edisi nomor 19, edar tanggal 14 Agustus 2014). Dikirimnya tanggal 29 Januari 2014. Lumayan lama juga ya masa tunggunya. Semoga makin rajin nulis dan makin banyak yang dimuat di Bobo, aamiin.. ^_^


Berikut ini versi aslinya sebelum diedit oleh editor Majalah Bobo:



PELAJARAN UNTUK PAK BO

 Pak Bo yang sarjana ekonomi bekerja di sebuah kantor di sudut kota Kebu-kebu. Perutnya gendut, mulutnya lebar, suaranya besar. Penampilannya rapi dan selalu berdasi. Rambutnya pun selalu tersisir kelimis.

Sebenarnya dia orang yang pintar. Semua tugas yang diberikan oleh Pak Zi, bosnya, selalu dikerjakan dengan cermat dan cepat diselesaikannya.

Sayang, Pak Bo hobi sekali mencela segala sesuatu. Sepertinya ada saja hal yang tidak pas di matanya.

Pak Bo selalu saja tidak puas dengan keadaan kantornya. Pak Bo juga sering membicarakan orang. Hampir semua orang di kantor pernah dibicarakan di belakang oleh Pak Bo.

“Seharusnya Pak Zi memberikan gaji yang lebih besar kepada kita. Pekerjaan kita semakin lama semakin banyak!” serunya suatu ketika. Tapi anehnya, Pak Bo tidak mau bicara langsung kepada Pak Zi. Dia hanya mengeluh di depan rekan-rekan kerjanya.

“Terang saja Pak Su bisa menguasai banyak hal. Dia punya banyak waktu di rumah, karena tidak punya anak,” kali lain giliran Pak Su yang kena sasarannya. Hmm, Pak Bo juga suka iri terhadap rekan kerjanya. Karena tekun dan suka mempelajari hal-hal baru, Pak Su memang terkenal serba bisa di kantor. Dia menjadi karyawan andalan Pak Zi.

“Kurasa Al orang yang aneh. Mengapa dia pindah ke kantor kita? Bukankah kantornya yang dulu lebih besar dan gajinya lebih tinggi?” celetuknya. Aduh, bahkan Pak Bo terlalu menaruh curiga dan berprasangka.

“Hei Win! Tun! Kalian ini seperti tak punya tenaga saja. Mengangkut berkas saja tak bisa sendiri.” Wah, wah. Win sampai merasa jengkel dalam hati. Berkas-berkas itu memang berat sekali jika diangkut sendirian. Makanya Win meminta bantuan Tun.  

“Pssst, Her. Kau kan jauh lebih muda dan pintar dibandingkan Pak Su. Tapi kenapa Pak Su yang selalu dipilih oleh Pak Zi untuk menjadi Ketua Tim?” bisiknya kepada Pak Her. Uh, ini sifat pak Bo yang paling berbahaya. Suka menghasut!

Selama ini tak ada orang yang menanggapi Pak Bo. Rata-rata karena malas berurusan dengannya. Atau tak tahan dengan kata-katanya yang menusuk.

Suatu hari, Pak Zi menunjuk Pak Su membentuk sebuah tim khusus untuk menangani sebuah proyek amal membangun kompleks panti asuhan. Pak Su segera memilih teman-teman untuk menjadi anggota timnya. Sudah tiga orang yang terpilih, yaitu Pak Her, Bu Yat, dan Al si anak baru. Pak Su masih butuh satu orang anggota lagi.

“Sepertinya Pak Bo bisa mengerjakan bagian akuntansinya. Apakah kita perlu mengajak Pak Bo untuk menjadi anggota tim?” tanya Pak Su ketika menggelar rapat tim.

“Ah, tapi ini proyek sukarela, Pak. Tidak ada honornya. Bagaimana kalau nanti dia mengeluh terus?” kata Pak Her.

“Betul, Pak Su. Lagipula saya tidak tahan mendengar cercaannya,” kali ini  Bu Yat yang menambahkan.

Akhirnya tim sepakat untuk mengajak Pak Wan sebagai anggota terakhir. Walau tak sepintar Pak Bo, tapi Pak Wan rajin bekerja dan juga sopan.

Dan beginilah reaksi Pak Bo.

“Hahahaha. Wan, Wan. Kau memang bodoh. Mau saja diajak masuk tim yang tak ada bayarannya. Mereka hanya memanfaatkanmu. Kalau aku, tak akan mau ikut proyek itu. Sayang sekali otakku yang pintar ini kalau hasil kerjaku tidak dibayar.”

Tanpa peduli ocehan Pak Bo, tim Pak Su pun mulai bekerja, dan berhasil membangun panti asuhan di kota Kebu-kebu. Pak Zi senang karena para stafnya telah bekerja dengan baik.

Pak Walikota datang untuk meresmikan panti asuhan tersebut.

“Terimakasih kepada Pak Zi yang telah memprakarsai proyek amal ini. Juga kepada Pak Su dan anggota timnya yang telah bekerja keras, hingga kota Kebu-kebu memiliki sebuah panti asuhan yang bagus,” kata Pak Walikota dalam sambutannya.

“Halah, cuma proyek kecil begitu saja,” Pak Bo mencibir.

“Oleh karena itu, saya mempercayakan proyek rumah susun Kota Kebu-kebu kepada Pak Su dan timnya. Jangan khawatir, proyek itu bukan proyek amal lagi. Nilainya cukup besar, sehingga akan ada honor yang lumayan untuk tim yang mengerjakannya,” sambung Pak Walikota.

Wajah Pak Zi dan seluruh tim Pak Su berseri-seri. Sedangkan Pak Bo hanya bisa gigit jari.

(SELESAI)

Thursday, May 29, 2014

Cerpen Bobo: Mami Skoli


Merupakan cerpen kedua yang dimuat di Majalah Bobo. Dikirim tanggal 13 Februari 2012, dan baru dimuat pada bulan November 2012. Sayang tidak ada dokumentasi fotonya, hiks. Jadi pake foto sedapetnya aja deh dari BB: foto Hilmy yang lagi utak-atik hp setelah capek baca Bobo :D
 
Ini dia cerita selengkapnya:


MAMI SKOLI

“Duduknya, Farah..”

Hmm, lagi-lagi Mami mengingatkan cara duduk Farah. Farah sudah hapal dengan teguran Mami yang satu ini.

“Farah, duduknya..!,” ulang Mami agak keras.

“Iya Mi..,” jawab Farah malas. Matanya masih asyik tertuju ke layar tivi. Perlahan ditegakkan punggungnya.

“Kalau mau bersandar, geser pantatnya ke sandaran kursi. Punggung lurus menempel ke sandaran. Jangan sikap malas begitu. Tegak 90 derajat,” nasihat Mami panjang lebar.

Sebenarnya Farah sudah hapal luar kepala ‘aturan posisi duduk’ ala Mami ini. Tapi menurut Farah, duduk bersandar dengan sikap malas alias setengah duduk – setengah baring itu yang paling enak. Duduk tegak, walaupun bersandar, hanya membuat keasyikannya membaca atau menonton tivi jadi berkurang.

Kenapa sih Mami selalu cerewet mengingatkan cara dudukku, batin Farah.

“Mami tidak ingin Farah seperti Mami,” tiba-tiba saja Mami sudah duduk di sebelah Farah. Diraihnya tangan Farah lalu diarahkan ke punggung. Mami menyuruh Farah meraba punggung Mami.

Penasaran, Farah meraba punggung Mami baik-baik.

“Lho, ini kenapa Mi..?” Farah bertanya heran.

Selama ini Farah tidak menyadari bahwa ternyata punggung Mami tidak rata. Sebelah kanannya terasa bongkok dan agak menonjol.

 “Mami tidak ingin Farah kena skoliosis juga seperti Mami,” kata Mami.

Skoliosis..? Hmm, apa itu?

Mami menjelaskan, skoliosis adalah kelainan bentuk tulang punggung atau tulang belakang. Tulang belakang yang harusnya lurus malahan membentuk kurva seperti huruf C atau S.

Mami mulai bercerita. Sama seperti Farah, Mami suka membaca sejak kecil. Dulu Mami paling suka membaca dengan posisi duduk bersila dan tangan bertopang dagu ke sisi kanan. Siku bertumpu di paha kanan, sehingga punggung miring ke kanan. Mami betah membaca berjam-jam dengan posisi seperti itu.

Mami juga suka duduk malas-malasan di kursi. Punggung dibiarkan melorot, tidak tegak. Persis posisi favorit Farah. Oma sudah sering menasehati, tapi Mami tak peduli.

Sewaktu SD kelas lima, seorang teman menegur Mami. Katanya pundak Mami tidak rata, yang kanan lebih tinggi daripada yang kiri. Awalnya Mami mengira temannya itu hanya main-main. Mami baru percaya ketika mengamati pas-fotonya sendiri. Di situ terlihat bahwa pundak Mami memang agak tinggi sebelah. Oma juga mendapati, ketika rukuk dalam sholat, punggung kanan Mami terlihat menonjol.

Semakin lama Mami pun semakin menyadari ada yang aneh dengan tubuhnya. Setiap kali mengenakan celana panjang, pipa celana yang kiri terlihat lebih pendek. Ternyata, itu disebabkan karena pinggul Mami telah menjadi tidak seimbang antara kiri dan kanan. Pinggang kiri Mami berlekuk sedangkan pinggang kanan lurus-lurus saja. Itulah sebabnya mengapa pipa celana kiri menjadi ‘menggantung’ kalau dipakai.

“Ih, aneh sekali ya Mi,” sela Farah.

“Iya Farah. Selain aneh, rasanya juga tidak nyaman,” jawab Mami.

Dari pelajaran Biologi, Mami akhirnya tahu bahwa apa yang dia alami adalah skoliosis. Tulang belakangnya berbentuk melengkung seperti huruf S. Mami menduga, posisi duduknya yang tidak tegak dan bertumpu ke satu sisi yang menjadi penyebabnya.

Mami pun mencari tahu tentang skoliosis ini. Ternyata, skoliosis cukup berbahaya. Kalau dibiarkan, tulang belakang akan semakin parah bengkoknya dan bisa menyebabkan nyeri punggung dan sulit bernapas. Salah satu cara untuk ‘mengoreksi’ skoliosis adalah dengan pemakaian brace atau semacam ‘rompi’ yang terbuat dari logam. Brace ini harus dipakai 23 jam setiap hari, termasuk ketika tidur.

Selain itu kata Mami, ada penderita skoliosis yang harus sampai dioperasi karena melengkungnya sudah parah. Bagian punggung dibedah, posisi tulang diperbaiki dan bila perlu dipasang alat logam di dalamnya.

Sejak itu, Mami mulai menjaga postur tubuhnya. Punggung dijaga selalu tegak tetapi tetap luwes dan tidak tegang. Mami tidak ingin memakai brace, apalagi operasi. Selain mahal, memakai brace pasti akan sangat tidak nyaman. Sedangkan operasi? Huaaa, Mami ngeri, dan pastinya juga biayanya lebih mahal lagi.

Untungnya Mami segera sadar sebelum skoliosisnya semakin parah. Walaupun punggungnya sudah terlanjur melengkung. Mami bersyukur tidak sampai harus memakai brace atau operasi. Bahkan kalau tidak diamati betul-betul, badan dan punggung Mami terlihat oke-oke saja. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa Mami sebenarnya mengalami skoliosis.

“Makanya Mami ingin Farah selalu jaga postur tubuh. Jangan membungkuk atau miring. Terutama kalau pas duduk. Jangan sampai kena skoliosis seperti Mami,” Mami menutup ceritanya.

“Siap, Mami Skoli!” goda Farah.

Mami memencet hidung Farah gemas.

***